Sekilas tentang kesehatan di lingkungan pesantren
Pesantren merupakan salah satu tempat atau sarana bagi generasi
sebagai tempat belajar.Hidup di lingkungan pesantren tentu terdapat suka maupun
duka yang dirasakan. Lebih dari itu, kemandirian dan kebersamaan yang tercipta
merupakan suatu nilai tersendiri dari sebuah pesantren. Tidur bersama, makan
bersama, bahkan sandal dan pakaian pun bisa jadi milik bersama. Kini, pesantren
telah berkembang dengan berbagai fasilitasnya yang memadai atau dengan kata
lain pesantren modern, meskipun sebagian pesantren tumbuh dalam lingkungan yang
kumuh, tempat mandi dan WC yang kotor, lingkungan yang lembab, dan sanitasi
buruk. Ditambah lagi dengan perilaku tidak sehat, seperti menggantung pakaian
di kamar, tidak membolehkan pakaian santri wanita dijemur di bawah terik
matahari, dan saling bertukar pakai benda pribadi, seperti sisir dan handuk.
Ironisnya, fakta dan kebiasaan tersebut sangat bertolak belakang dengan prinsip
kebersihan yang dijunjung tinggi dalam ajaran agama Islam. Seperti, ajaran
Islam tentang najis, aturan untuk bersuci, bahkan Rasulullah saw pun menegaskan
bahwasannya ‘Kebersihan itu adalah sebagian dari iman.

Lingkungan pesantren
Sebagaimana sanitasi rumah, sanitasi pondok pesantren pada dasarnya adalah
usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap
struktur fisik, dimana orang menggunakannya sebagai tempat berlindung yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sarana sanitasi tersebut antara lain
ventilasi, suhu, kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan,
sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan kotoran manusia, dan penyediaan air
bersih.
Beberapa masalah sanitasi sangat umum di pondok pesantren dapat kita sebut
antara lain seperti keterbatasan sarana sanitasi dan perilaku santri yang belum
berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan Moh. Badri (2008) didapatkan gambaran bahwa masih banyaknya ditemukan
sanitasi pondok pesantren yang kurang memadai, higiene perorangan pada santri
yang buruk, pengetahuan, sikap, dan perilaku para santri yang kurang mendukung
pola hidup sehat, serta pihak pengelola pondok pesantren yang kurang tertarik
dengan masalah sanitasi lingkungan pondok pesantren. Beberapa komponen yang
diamati adalah sanitasi lingkungan pondok pesantren yang terdiri dari lokasi
dan konstruksi pondok pesantren, penyediaan air bersih, ketersediaan jamban,
pengelolaan sampah, sistem pembuangan air limbah, sanitasi dan kepadatan
pemondokan, sanitasi ruang belajar santri, serta sanitasi masjid pondok pesantren.
Dari setiap sanitasi di berbagai tempat di pesantren sangat erat kaitannya
dengan higiene perorangan para santri. Karena pada dasarnya timbulnya suatu
penyakit di pesantren tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan tetapi
juga dipengaruhi oleh faktor perilaku. Oleh karena itu, higiene perorangan di
pondok pesantren dapat meminimalisir terjadinya penyakit di suatu pesantren.
Higiene perorangan tersebut seperti rajin memotong kuku, tidak memakai pakaian
secara bersama-sama, memelihara kebersihan badan, dan sebagainya. Namun pada
kenyataanya, higiene perorangan di pesantren khususnya di kalangan santri masih
sangat sulit untuk diaplikasikan.
Beberapa orang kadang memiliki kebiasaan menggantung baju atau celana yang
sudah dipakai. Sebaiknya jangan lakukan kebiasaan ini karena bisa jadi tempat
bersembunyi nyamuk demam berdarah. Nyamuk demam berdarah sangat senang
istirahat di baju-baju yang digantung karena mereka senang dengan bau keringat
manusia, bahkan nyamuk senang sekali pada handuk basah yang digantung dikamar.
Nyamuk demam berdarah ini akan mencari makan pada pagi sekitar pukul 8-11 pagi
lalu ia istirahat dahulu pada baju yang digantung lalu mulai mencari makan lagi
pada sore hari sekitar pukul 3-6 sore. Nyamuk penyebab demam berdarah atau
aedes aegypti ini memiliki warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada
bagian badan, kaki dan sayap dengan ukuran lebih kecil dibanding ukuran
rata-rata nyamuk. Setiap kali menghisap darah ia akan mengeluarkan air liur
yang berfungsi mencegah pembekuan, pada betina juga untuk pematangan sel telur.
Sampai saat ini pencegahan demam berdarah yang efektif adalah dengan mengubah
perilaku bersih. Sedangkan penggunaan tanaman seperti lavender hanya mampu
mengusir nyamuk tapi tidak membuatnya mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar