Kamis, 13 April 2017

Sekilas tentang kesehatan di lingkungan pesantren
                 Pesantren merupakan salah satu tempat atau sarana bagi generasi sebagai tempat belajar.Hidup di lingkungan pesantren tentu terdapat suka maupun duka yang dirasakan. Lebih dari itu, kemandirian dan kebersamaan yang tercipta merupakan suatu nilai tersendiri dari sebuah pesantren. Tidur bersama, makan bersama, bahkan sandal dan pakaian pun bisa jadi milik bersama. Kini, pesantren telah berkembang dengan berbagai fasilitasnya yang memadai atau dengan kata lain pesantren modern, meskipun sebagian pesantren tumbuh dalam lingkungan yang kumuh, tempat mandi dan WC yang kotor, lingkungan yang lembab, dan sanitasi buruk. Ditambah lagi dengan perilaku tidak sehat, seperti menggantung pakaian di kamar, tidak membolehkan pakaian santri wanita dijemur di bawah terik matahari, dan saling bertukar pakai benda pribadi, seperti sisir dan handuk. Ironisnya, fakta dan kebiasaan tersebut sangat bertolak belakang dengan prinsip kebersihan yang dijunjung tinggi dalam ajaran agama Islam. Seperti, ajaran Islam tentang najis, aturan untuk bersuci, bahkan Rasulullah saw pun menegaskan bahwasannya ‘Kebersihan itu adalah sebagian dari iman.
Hasil gambar untuk gambar santri unipdu
Lingkungan pesantren
Sebagaimana sanitasi rumah, sanitasi pondok pesantren pada dasarnya adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik, dimana orang menggunakannya sebagai tempat berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sarana sanitasi tersebut antara lain ventilasi, suhu, kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan kotoran manusia, dan penyediaan air bersih.
Beberapa masalah sanitasi sangat umum di pondok pesantren dapat kita sebut antara lain seperti keterbatasan sarana sanitasi dan perilaku santri yang belum berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Moh. Badri (2008) didapatkan gambaran bahwa masih banyaknya ditemukan sanitasi pondok pesantren yang kurang memadai, higiene perorangan pada santri yang buruk, pengetahuan, sikap, dan perilaku para santri yang kurang mendukung pola hidup sehat, serta pihak pengelola pondok pesantren yang kurang tertarik dengan masalah sanitasi lingkungan pondok pesantren. Beberapa komponen yang diamati adalah sanitasi lingkungan pondok pesantren yang terdiri dari lokasi dan konstruksi pondok pesantren, penyediaan air bersih, ketersediaan jamban, pengelolaan sampah, sistem pembuangan air limbah, sanitasi dan kepadatan pemondokan, sanitasi ruang belajar santri, serta sanitasi masjid pondok pesantren.
Dari setiap sanitasi di berbagai tempat di pesantren sangat erat kaitannya dengan higiene perorangan para santri. Karena pada dasarnya timbulnya suatu penyakit di pesantren tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor perilaku. Oleh karena itu, higiene perorangan di pondok pesantren dapat meminimalisir terjadinya penyakit di suatu pesantren. Higiene perorangan tersebut seperti rajin memotong kuku, tidak memakai pakaian secara bersama-sama, memelihara kebersihan badan, dan sebagainya. Namun pada kenyataanya, higiene perorangan di pesantren khususnya di kalangan santri masih sangat sulit untuk diaplikasikan.
Beberapa orang kadang memiliki kebiasaan menggantung baju atau celana yang sudah dipakai. Sebaiknya jangan lakukan kebiasaan ini karena bisa jadi tempat bersembunyi nyamuk demam berdarah. Nyamuk demam berdarah sangat senang istirahat di baju-baju yang digantung karena mereka senang dengan bau keringat manusia, bahkan nyamuk senang sekali pada handuk basah yang digantung dikamar.
Nyamuk demam berdarah ini akan mencari makan pada pagi sekitar pukul 8-11 pagi lalu ia istirahat dahulu pada baju yang digantung lalu mulai mencari makan lagi pada sore hari sekitar pukul 3-6 sore. Nyamuk penyebab demam berdarah atau aedes aegypti ini memiliki warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan, kaki dan sayap dengan ukuran lebih kecil dibanding ukuran rata-rata nyamuk. Setiap kali menghisap darah ia akan mengeluarkan air liur yang berfungsi mencegah pembekuan, pada betina juga untuk pematangan sel telur. Sampai saat ini pencegahan demam berdarah yang efektif adalah dengan mengubah perilaku bersih. Sedangkan penggunaan tanaman seperti lavender hanya mampu mengusir nyamuk tapi tidak membuatnya mati.